Informasi Terbaru

Kopi Bandung Barat Makin Mendunia, Permintaan dari Australia dan Asia Terus Bertambah

27 Jun 2026, 06:00
Sumber Pikiran Rakyat
9 Views
Kopi Bandung Barat Makin Mendunia, Permintaan dari Australia dan Asia Terus Bertambah
Komoditas kopi asal Kabupaten Bandung Barat kian merambah pasar luar negeri. Salah satu kelompok tani yang telah mengekspor kopi adalah Java Halu Farm. Kelompok tersebut memproses kopi dari wilayah Gununghalu dan Sindangkerta. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian KBB Lukmanul Hakim mengatakan, Java Halu Farm atau dikenal pula dengan Java Halu Coffe mengekspor produknya ke Eropa, Amerika, Timur Tengah, Australia, hingga beberapa negara Asia (Jepang dan Vietnam). Pada 2026, produk kopi Java Halu juga dikirim ke Australia dengan total order 3,8 ton, Jepang 2 ton dan Vietnam 10 ton. Untuk itu, DKPP KBB memberikan sejumlah duku¬ngan. "Capacity building untuk anggota petani. Fasilitas penjemuran kopi dan alat proses kopi," kata Lukman dihubungi "PR" Jumat 26 Juni 2026. Tak cuma Java Halu Farm, kopi-kopi dari kelompok tani wilayah KBB lain juga turut menjangkau pasar mancanegara. Kelompok tani (Poktan) Ranting Estate Cikalongwetan misalnya, mengekspor kopi produknya ke Asia Timur. Sedangkan Poktan Global Makmur Lembang mengekspor ke Jerman. Sejarah kopi di wilayah Bandung atau Jawa Barat sudah terentang sejak lama. Dalam buku Priangan yang ditulis Andries de Wilde, budidaya kopi di Bandung sudah berlansung di abad 19. "Pemandangan dari ibukota Kabupaten Bandung ini di pegunungan sekitarnya, semuanya terlihat dibudidayakan dengan tingkat yang cukup tinggi, yaitu budidaya kopi serta pesawahan yang terlihat naik laksana amfiteater raksasa, sangat menawan dan menyajikan lukisan alam yang harmonis antara alam yang luhur dan sederhana," tulis Andries dalam buku yang diterbitkan pertama kali pada 1829 tersebut. Penjelajah Inggris, Charles Walter Kinloch yang juga sempat berkunjung ke Bandung dalam pengembaraannya di Jawa pada 1852 meng¬gambarkan Bandung sebagai wilayah yang nyaman dengan pemandangan kebun-kebun kopi di wilayah desanya. "Tiap perkebunan dipagari dengan pagar tanaman rapat berupa tanaman bunga sepatu merah, yang di tempat ini tumbuh dengan sangat subur," tulis Charles dalam buku¬nya, Rambles in Java: Pengembaraan Di Tanah Jawa. Andries juga mencatat jalur pengangkutan kopi di masa lalu yang masih menggunakan perahu. Andries De Wilde menggambarkan jalur pengangkutan kopi menuju Batavia yang melintasi Sungai Citarum dengan jalur Bayabang hingga Cikao dalam bukunya, Priangan yang terbit pada 1829. Bayabang, nama tempat di perbatasan Bandung dan Cianjur kini sudah lenyap setelah tergenang PLTA Cirata. Sementara Cikao di wilayah Purwakarta menjadi saksi keberadaan gudang-gudang penampungan kopi masa lalu.***