Informasi Terbaru
Ketahanan Pangan Dimulai dari Keluarga, DKPP KBB Gaungkan B2SA dan Gerakan Stop Boros Pangan
Ketahanan pangan yang kuat tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi harus dimulai dari lingkungan terkecil, yakni keluarga. Hal tersebut ditegaskan Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bandung Barat, Dr. H. M. Lukmanul Hakim, M.Si., dalam kegiatan Sosialisasi Pangan B2SA atau Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman serta Gerakan Stop Boros Pangan di Hotel Narima Lembang, Kamis (3/9/2026). Kegiatan tersebut diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai unsur. Hadir di antaranya jajaran Badan Pangan Nasional, unsur Forkopimda, para kepala perangkat daerah, pimpinan instansi, serta Tim Penggerak PKK dari tingkat Kabupaten Bandung Barat, 16 kecamatan, hingga 165 desa.
Dalam sambutannya, Lukmanul Hakim menekankan pentingnya perubahan pola konsumsi masyarakat agar tidak hanya berorientasi pada rasa kenyang, tetapi juga memperhatikan keberagaman, keseimbangan gizi, dan keamanan pangan. “Ketahanan pangan nasional tidak akan pernah terwujud secara kokoh tanpa dimulai dari ketahanan pangan di lingkup terkecil, yaitu keluarga. Melalui sosialisasi Pangan B2SA ini, kami ingin memastikan masyarakat tidak sekadar kenyang, tetapi juga mengonsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang, dan aman bagi kesehatan,” ujarnya.
B2SA Jadi Langkah Membangun Keluarga Sehat Menurut Lukmanul Hakim, penerapan pola konsumsi pangan B2SA menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pola konsumsi yang beragam dan bergizi seimbang diharapkan dapat dimulai dari rumah tangga dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, keluarga tidak hanya memiliki akses terhadap pangan, tetapi juga mampu memanfaatkan pangan secara tepat untuk mendukung kesehatan dan kesejahteraan. Ajak Masyarakat Stop Boros Pangan Selain mendorong penerapan pola konsumsi B2SA, DKPP Kabupaten Bandung Barat juga menaruh perhatian terhadap persoalan pemborosan pangan atau food waste. Lukmanul Hakim menilai, makanan yang terbuang sia-sia tidak hanya menjadi persoalan konsumsi, tetapi juga berdampak terhadap ekonomi, sosial, dan lingkungan. Program Sosialisasi Pangan B2SA dan Stop Boros Pangan Tahun 2026 menjadi bagian dari upaya edukasi kepada masyarakat untuk membangun kesadaran dalam mengelola dan memanfaatkan pangan secara lebih bijak.
Dalam kegiatan tersebut, peran Tim Penggerak PKK dinilai sangat strategis untuk membantu menyampaikan edukasi hingga ke tingkat keluarga dan masyarakat. “Kami juga mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya TP PKK dari tingkat kabupaten hingga 165 desa, untuk menjadi garda terdepan. Mari ubah pola pikir kita untuk Stop Boros Pangan. Setiap butir makanan yang terbuang sia-sia adalah kerugian besar secara ekonomi maupun lingkungan,” tegasnya.
Kolaborasi Wujudkan Kemandirian Pangan KBB
Kegiatan sosialisasi tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi lintas sektor dalam menjaga ketersediaan, keterjangkauan, dan pemanfaatan pangan yang berkualitas di Kabupaten Bandung Barat. Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, instansi terkait, aparat, Tim Penggerak PKK, serta masyarakat, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat optimistis upaya membangun ketahanan dan kemandirian pangan dapat terus diperkuat secara berkelanjutan.
Dengan dimulainya perubahan pola konsumsi dari lingkungan keluarga, gerakan Pangan B2SA dan Stop Boros Pangan diharapkan mampu menjadi langkah nyata menuju masyarakat Bandung Barat yang lebih sehat, sadar pangan, dan mandiri.***