Informasi Terbaru
Petani Dihantui Fenomena El Nino, DKPP Bandung Barat Siapkan Langkah Ini
Pemerintah Kabupaten Bandung Barat menyiapkan langkah antisipasi dampak dari kekeringan yang disebabkan oleh fanomena El Nino 2026.
Pasalnya, sebanyak 14.475 hektare lahan baku sawah berpotensi terdampak kekeringan saat El Nino dari total 18.003 hektar Bandung Barat atau 3.613 hektar yang dalam kondisi aman.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bandung Barat, Lukmanul Hakim menjelaskan, dampak EI Nino menjadi ancaman terbesar bagi petani lantaran sawah yang ada didominasi lahan tadah hujan.
“Dari total lahan baku sawah seluas 18.093 hektare, hanya sekitar 20 persen yang memiliki sistem irigas, sementra sisanya sangat bergantung pada curah hujan," katanya, Minggu (3/5/2026).
Ia menambahkan, menyikapi kondisi tersebut pihaknya bakal melakukan penyesuaian teknis budidaya sebagai langkah cepat dan adaptif ditingkat petani.
“Upaya yang kami lakukan adalah dengan penggunaan verietas tahan kering seperti padi Inpago 8, jagung Bisi 18 dan cabai Dewata 43," tambahnya.
Lebih lanjut ia mengatakan, petani juga diarahakan menerapkan teknik hemat air seperti penggunaan mulsa untuk menjaga kelembaban tanah, serta mengatur agar jadwal tanam agar fase kritis tanaman tidak terjadi saat puncak kemarau.
“Pola tanam juga kami sesusikan. Di wilayah rawan, petani dianjurkan mengganti padi dengan palawija yang lebih hemat air," Katanya.
Masih kata Lukman, upaya pendampingan intensif oleh Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), termasuk pametaan wilayah rawan kekeringan dan sosialisasi prediksi cuaca dari BMKG menjadi salah satu upaya mitigasi yang dilakukan.
"Pemerintah juga mendorong petani mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) gun melindungi dari resiko gagal panen, serta memastikan kesiapan sarana seperti pompa air dan pengelolaan irigasi yang efesien," katanya.
"Sinergi antara petani, penyuluh, dapemerintah menjadi kunci. Dengan penyesuaian budidaya dan mitigasi yang tepat, kami optimis produksi pangan tetap terjaga meski dihadapkan pada ancaman El Nino," sambungnya.
Ia menyebut, sebagai upaya nyata kehadiran pemerintah pihaknya bakal mengoptimalkan program pompanisasi atau bridge pompa. Sepanjang 2024 hingga 2025, sebanyak 393 unit pompa telah disebar, dan pada 2026 ditargetkan bertambah 125 unit dari APBD dan APBN.
"Pembangunan irigasi perpompaan dan jaringan irigasi air tanah juga terus dilakukakn. Hingga 2025, tercatat 65 unit irigasi perpompaan dan 2 unit jaringan air tanah telah dibangun, dengan tambahan 19 unit direncanakan pada 2026," katanya.
Ia menegaskan, kondisi adanya ancaman El Nino ini menjadi tantangan serius bagi daerah yang sejak 2014 telah mencapai swasembada pangan dan terus menyumbang produksi beras nasional.
"Pada 2025, produksi padi Bandung Barat tercatat mencapai 274.221 ton atau setara 147.424 ton beras. Oleh karana itu, kami akan melakukan upaya maksimal untuk memberikan yang terbaik bagi petani di Bandung Barat," tandasnya. (KRO)